“Eh Rian! Sini dong! Kerjain tugas matematika gue, pusing banget nih,” panggil Dika sambil melambaikan buku tulisnya dari sudut kelas.
Rian tersenyum lalu menghampiri meja geng Dika. “Ada apa, Dik? Memangnya mana yang membuatmu pusing? Lo kok belum satupun ngerjain soal-soal itu?”
“Sudahlah jangan banyak tanya, kamu saja yang ngerjain mumpung ini waktunya istirahat. Nanti jam terakhir waktunya tugas matematika dikumpulkan, kamu tahu sendiri kan Pak Anang tuh galaknya kayak apa.”
“Ok deh, tapi nanti malam lo harus temenin gue mabar ya?” Rian akhirnya menyerah dan mengerjakan tugas Dika, menyalin dari tugasnya yang telah dikerjakan semalam di rumah.
“Gampang! Lu selalu bisa diandalkan, Rian,” sahut Dika seraya merangkul bahu Rian.
Namun, kenyamanan itu runtuh sejak kedatangan Doni, si murid baru. Puncaknya terjadi saat istirahat siang di koridor kelas. Dika sengaja menjulurkan kakinya saat Doni lewat membawa semangkuk bakso kuah.
Brakk! Doni tersandung, mangkuknya pecah, dan kuah panas mengotori seragamnya. Kelompok Dika langsung tertawa terbahak-bahak.
“Yah, tumpah! Makanya, kalau jalan pakai mata, jangan pakai dengkul!” ejek Dika sambil mendorong bahu Doni hingga anak itu terdesak ke tembok. Anggota geng yang lain ikut menyoraki, “Anak baru lelet! Pemalas!”
Doni hanya menunduk dalam, tangannya gemetar menahan malu dan takut.
Rian yang melihat kejadian itu merasa dadanya bergemuruh. Dia tidak bisa diam lagi. Rian langsung melangkah maju dan berdiri di depan Doni, menghalangi Dika.
“Stop, Dik! Jangan kelewatan. Dia nggak salah apa-apa, lo sengaja kan?” tegas Rian dengan tatapan tajam.
Tawa Dika langsung terhenti. “Wah, sekarang lu mau jadi pahlawan kesiangan, Rian? Oke, urusan kita selesai.”
Sejak hari pembelaan itu, meja belajar Rian mendadak terasa seperti sebuah pulau terpencil. Dika dan kelompoknya benar-benar menutup pintu komunikasi.
“Eh, mending kita geser duduknya. Ada pahlawan kesiangan nih,” sindir salah satu anggota geng Dika saat Rian lewat di depan kantin. Dika hanya melengos, mengabaikan kehadiran Rian sepenuhnya. Rian segera menjauh dan memilih duduk di dekat Doni yang kebetulan kursinya kosong.
Rian menghela napas berat. Dia sempat merasa terasi dan tak punya teman sehangat dulu. Beruntung, Doni mengobati rasa sepinya. Murid baru itu tersenyum dan membuka obrolan hangat.
“Rian, makasih ya buat pertolongannya kemarin. Oh ya, gue bawa bekal kue donat buatan ibu gue, mau coba?” tanya Doni tulus.
Rian mencicipinya dan tersenyum. “Wah, enak banget! Eh, Don, lo tahu nggak cara nyelesaiin soal analisis teks rekon tugas dari Bu Ria kemarin?”
“Tahu! Nanti setelah makan, kita bahas bareng di perpus,” jawab Doni antusias.
Sejak saat itu, Rian menemukan ruang aman baru. Daripada meratapi nasib atau membalas ejekan dengan sinisme, Rian memilih menghabiskan waktu di perpustakaan untuk belajar dan bercanda bersama Doni.
Candaan Doni yang ringan dan kecerdasannya dalam mengelola konsep materi membuat Rian terpukau. “Gak salah kalau aku berteman denganmu,” ucap Rian suatu hari setelah banyak proyek dan tugas sekolah yang selesai dia kerjakan bersama Doni.
Kerja keras mereka berbuah manis saat ujian tengah semester. Saat upacara bendera, wali kelas mengumumkan, “Peringkat pertama paralel diraih oleh Rian, dan peringkat kedua oleh Doni!”
Dari barisan belakang, Dika hanya mendengus ketus. “Cuma modal keberuntungan,” bisiknya jengkel, walau matanya tak bisa menyembunyikan rasa jengah.
Titik balik itu datang dua minggu kemudian. Guru masuk ke kelas dengan membawa tumpukan berkas. “Anak-anak, hari ini kita ada proyek membuat sketsa bangunan dengan skala. Tugas ini rumit dan wajib dikerjakan berpasangan.”
Suasana kelas mendadak senyap setelah semua murid mendapatkan pasangan masing-masing. Karena pembagian kelompok dilakukan ketika Rian tidak masuk, Rian jadi siswa yang belum mendapat kelompok.
“Karena kelompok Dika masih kurang, baru tiga siswa, sementara semua kelompok sudah empat orang, maka Rian otomatis masuk kelompok Dika,” ujar guru dari depan kelas.
Dika langsung melengos menghadap jendela, sementara Rian hanya menarik napas dalam, mencoba tetap tenang.
Rian duduk dengan santai di kelompoknya, meskipun atmosfer sekitar terasa sangat kaku. Dika duduk di seberang Rian dengan lembar kerja yang masih kosong melompong. Dia membolak-balik buku dengan kasar dan sesekali memijat pelipisnya karena frustrasi.
Rian tahu, jika tugas ini gagal, maka kelompok mereka harus bertanggung jawab di depan kelas dan Pak Anang. Hal yang sangat dipertaruhkan demi sebuah gengsi. Rian sempat berpikir untuk membiarkan Dika gagal sebagai bentuk pembalasan. Namun, nuraninya menolak.
Rian menggeser kursinya sedikit lebih dekat. “Dik, bagian analisis desain ruang ini sebenarnya mirip sama pola yang kita pelajari minggu lalu.” Perlahan Rian mulai menurunkan egonya. “Ini sudah gua urutkan poin-poinnya, mau lihat?” tanya Rian tenang, tanpa nada mengejek.
Dika tertegun. Dia menatap Rian dengan tatapan tidak percaya. Rasa gengsinya bertarung hebat dengan kebutuhan menyelesaikan tugas. Sisi hatinya mendadak rindu pada Rian yang tidak pernah garing saat bercanda dan selalu telaten mengajarinya.
“Gue… gue nggak paham bagian mengubah skala menjadi realistis, Rian,” Dika akhirnya mengaku. Suaranya pelan, kehilangan keangkuhan, dan hanya terdengar oleh Rian serta beberapa teman kelompoknya saja.
Rian tersenyum tipis. “Gini, Dik. Langkah pertamanya, lo catat dulu ukuran normal bangunan. Kalau sudah, kita pakai skala 1:100 seperti yang disampaikan Pak Anang, baru nanti kita coba buat sketsanya. Kan lu paling jago desain?”
Dika tersenyum. “Oh, begitu ya.” Gambaran abstrak yang awalnya sulit dia terjemahkan akhirnya mendarat ke bumi dengan sempurna.
“Nah, sip keren! Sekarang kita tinggal bagi tugas untuk menghitung ruang,” ajak Rian. Tanpa sengaja ia telah mengambil komando pada kelompoknya. Dia membagi tugas untuk Dika, Febri, Alex, dan dirinya sendiri.
Selama dua jam penuh di atas meja mereka berdiskusi dan mulai mengubah ukuran gedung menjadi gambar sketsa yang cantik. Sebuah jembatan komunikasi baru kembali terbangun di antara mereka. Keesokan harinya, tugas mereka sukses mendapat nilai tertinggi di kelas.
Saat istirahat siang, Dika berjalan menghampiri meja Rian diikuti kelompoknya dari belakang. Beberapa siswa di sekitar spontan menahan napas, khawatir akan terjadi keributan lagi.
Dika berhenti di depan Rian, lalu mengulurkan tangannya. “Rian… makasih buat kemarin. Kalau nggak ada lu, gue nggak bakal lulus proyek ini.”
Rian menyambut uluran tangan itu dengan mantap. “Sama-sama, Dik. Santai aja.”
Dika menoleh ke arah teman-temannya sejenak, lalu kembali menatap Rian. “Eh, nanti sore kita mau ke lapangan basket depan. Lu ikut, kan? Kita butuh orang, main lo kan oke.”
Rian melirik ke arah Doni yang duduk di sebelahnya, lalu kembali menatap Dika. “Boleh, tapi Doni ikut juga, ya?”
Dika sempat ragu sejenak melihat Doni yang tampak canggung. Namun kemudian, Dika mengangguk sambil tersenyum tipis. “Oke, makin ramai makin seru!”
Rian tersenyum lega. Dia berhasil diterima kembali ke dalam lingkungan pergaulannya, tetapi kali ini dengan standar baru: sebuah penerimaan yang lahir dari rasa hormat atas kompetensi dan adab, bukan karena dia tunduk pada tekanan kelompok.
