|

Tungku Kayu yang Tak Pernah Kamu Lihat

Tungku Kayu yang Tak Pernah Kamu Lihat

Nadin sedang asyik mengoreng telur. Ia menggunakan wajan kecil yang diletakkan diatas tungku kompor listrik . Tiba-tiba ibu berbicara, “Nak, kamu sekarang kalau mau memasak tinggal menyentuh layar digital kompor listrik induksi kompor gas, atau ada memutar tombol kompoar gas seperti yang ada di rumah nenek. Semuanya serba bersih dan instan, bukan? Tapi tahukah kamu, dapur Ibu waktu seusiamu dulu sangat jauh berbeda.

Sekitar lima puluh tahun yang lalu, saat Ibu masih anak-anak, dapur rumah Nenek masih menggunakan tungku batu dengan bahan bakar kayu. Tugas ibu mencari kayu bakar dan ranting pohon kering di sekitar halaman setiap pagi. Kami harus meniup bara api menggunakan bambu kecil sampai mata perih dan berair karena asap yang mengepul memenuhi dapur. Alhasil, panci dan dinding dapur nenek selalu hitam legam penuh jelaga.

Waktu ibu remaja kompor minyak tanah mulai digunakan waktu itu kekitar tahun 1980 an Seiring berjalannya waktu, minyak tanah mulai langka. Pemerintah mulai menjalankan program nasional konversi minyak tanah ke gas LPG 3 kg melalui Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2007. Saat itu ibu sudah menikah dan sudah melahirkan kakakmu Bisma. Nah karena gas juga sering langka dan kita sudah mulai sibuk sejak kelahiran adikmu Tia ayah dan ibu mulai memilih kompor listrik. Meskipun harganya lebih mahal namun bahan bakarnya lebih mudah didapatkan dan dapur kita pun menjadi jauh lebih bersih dan hemat waktu dan sangat praktis.

Perjalanan dari asap kayu bakar hingga kompor listrik tanpa api ini adalah bukti bagaimana teknologi berkembang untuk mempermudah hidup manusia. Ibu menceritakan ini agar kamu tahu bahwa kenyamanan dapur yang kamu nikmati hari ini adalah buah dari proses panjang yang dilewati generasi sebelummu.”

Similar Posts