Benang Gelasan

“Kakak, ayo kita ke lapangan! Di sana sudah banyak anak-anak siap bermain layangan,” teriak Arman memanggil Danu, sang kakak. Kedua bersaudara itu berjalan beriringan menuju lapangan sepak bola kampung. Musim angin seperti ini, setiap pulang sekolah banyak anak menghabiskan waktunya untuk bermain layangan.

“Lihat Kak, itu layangan kepala naga, ayo kita coba sambit ya!” seru Arman antusias. Danu hanya mengangguk sambil terus mencoba menaikkan layangan mereka. Selembar layang-layang berwarna merah marun yang mereka rakit berdua dari bambu sisa mulai meliuk-liuk lincah.

Tangan Danu bergerak cekatan menahan gesekan benang, sementara adiknya, Arman, berdiri di belakangnya dengan sigap memegangi kaleng bekas gulungan benang sambil sesekali memberi komando dan teriakan penyemangat.

“Ayo Kak Danu, ulur terus! Layangan berkepala naga itu mau menyerang!” teriak Arman panik. Di atas sana, layang-layang besar milik anak kampung sebelah mulai menukik tajam, mengincar benang mereka.

“Tarik, Kak!” Arman semakin bersemangat dan gemas.

Danu mulai panik. Keringatnya mengucur deras dan tenaganya dikerahkan penuh. “Tenang Arman, ini berat banget!” seru Danu dengan tak kalah kerasnya sambil tersengal-sengal. “Sudah, kita enggak bisa lanjutkan,” seru Danu saat benang layangan musuh sempat mengendur dan sedikit menjauh. “Benang kita tipis, jangan dipaksa mati-matian!” balas Danu mengingatkan.

“Nggak bisa, Kak! Tarik sekarang! Tarik!” Arman menjerit egois.

Danu mencoba mengulur benangnya dan memutarkan layangannya mendekati layangan naga itu sekali lagi. Namun, jemarinya yang agak kaku terlambat sepersekian detik. Ditambah lagi, benang gelasan murah mereka kalah tajam.

Kreeek… pes!

Benang itu putus. Layang-layang merah marun kesayangan mereka menukik tak berdaya, melayang menjauh, lalu hilang tertelan kerimbunan pohon bambu di seberang desa. Arman tak percaya melihat kejadian itu, ia terpaku. Matanya mendadak panas dan berkaca-kaca. Ia menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan penuh kecewa dan menundukkan kepalanya. Ingin dia menjerit dan menangis keras, namun dia menahannya. Dia terisak.

“Kakak sih lambat. Kalau tadi Kakak langsung tarik kuat, kita bisa menang,” katanya di sela isakannya.

“Maaf ya, Arman. Mata Kakak tadi pedih dan benang kita juga kalah tajam dari benang lawan. Besok kita coba lagi ya,” bujuk Danu sambil meraih tangan Arman, namun ditepisnya. Danu hanya terdiam, menatap gulungan kaleng kosong di tangannya dengan rasa bersalah yang berkecamuk.

Keheningan yang canggung menyelimuti mereka berdua di tengah lapangan yang mulai sepi. Bersamaan dengan itu, warna keemasan di langit perlahan-lahan meredup, berganti dengan guratan jingga yang semakin menebal di ufuk barat. Sayup-sayup adzan Maghrib terdengar dari langgar yang tak jauh dari lapangan.

Danu menarik napas dalam-dalam. Ia berlutut di depan adiknya yang masih sesenggukan. “Maafkan Kakak ya, Man. Kita masih punya satu lagi layangan buatan kita kemarin, dan besok Kakak belikan benang gelasan nomor satu pakai uang celengan Kakak,” bisik Danu lembut sambil mengusap kepala adiknya.

Arman menyeka air matanya dengan kaus oblongnya yang dekil. Kemarahannya yang menggebu-gebu tadi perlahan melunak melihat ketulusan kakaknya. Ia mengangguk pelan, lalu meraih tangan Danu.

Suara anak-anak di lapangan kini telah senyap, berganti dengan suara jangkrik dan kodok dari sawah di kejauhan. Di bawah temaram lampu surau yang baru saja menyala, Arman menggandeng erat jemari kakaknya. Kekalahan sore tadi tak lagi terasa menyakitkan.

Sesampai di rumah, mereka disambut Ibu dengan teriakan sayangnya. “Ayo anak-anak mandi, dan segera ke surau. Sepulangnya kita makan malam bersama.”

Mereka berdua menyahut bersamaan dan segera menuju kamar mandi lalu bergegas ke surau. Tidak ada lagi isak tangis dari Arman. Hanya kebersamaan adik dan kakak yang hangat dan tak akan terlupakan di kehidupan mereka.

Similar Posts