Bahasa Indonesia kaya akan kosakata yang terbentuk melalui proses pengimbuhan (afiksasi). Selain menggunakan imbuhan asli, bahasa kita juga menyerap unsur dari bahasa asing untuk memperkaya pembentukan kata, terutama dalam ragam ilmiah, jurnalistik, dan formal.
Unsur serapan ini dikenal sebagai imbuhan asing atau imbuhan serapan. Berikut adalah pengelompokan jenis beserta contoh penggunaannya dalam kalimat yang sesuai dengan EYD V:
1. Imbuhan dari Bahasa Sanskerta
Imbuhan dari bahasa Sanskerta umumnya berbentuk bentuk terikat (ditulis serangkai di awal) dan akhiran (sufiks) untuk menyatakan tingkat, kondisi, atau profesi seseorang.
- Awalan maha- (artinya besar atau raya)
- Catatan EYD V: Ditulis serangkai jika diikuti kata dasar (mahakarya), namun ditulis terpisah jika diikuti kata berimbuhan (Maha Pengasih).
- Contoh Kalimat: Candi Borobudur merupakan mahakarya arsitektur kuno yang diakui oleh dunia.
- Awalan tuna- (artinya tidak memiliki, kurang, atau cacat)
- Contoh Kalimat: Pemerintah daerah sedang menyediakan program pelatihan keterampilan khusus bagi para tunawisma.
- Awalan pra- (artinya sebelum)
- Contoh Kalimat: Anak-anak usia dini disarankan mengikuti program prasekolah untuk melatih kemampuan bersosialisasi.
- Akhiran -wan / -man / -wati (artinya pelaku atau orang yang memiliki sifat tersebut)
- Contoh Kalimat: Seorang wartawan sedang mewawancarai seniman itu di dalam galeri lukisannya.
- Contoh Kalimat: Perusahaan tersebut sedang membuka lowongan pekerjaan untuk karyawati baru.
2. Imbuhan dari Bahasa Arab
Serapan dari bahasa Arab biasanya berupa akhiran yang berfungsi membentuk kata sifat atau menandakan bentuk jamak (kelompok orang).
- Akhiran -wi / -iah (artinya bersifat atau berhubungan dengan)
- Contoh Kalimat: Kita tidak boleh hanya mengejar kesuksesan duniawi, melainkan juga harus menjaga kedamaian jiwa.
- Akhiran -in / -at (penanda kata benda jamak atau kelompok orang)
- Contoh Kalimat: Selamat datang kami ucapkan kepada seluruh hadirin yang telah meluangkan waktu dalam seminar nasional hari ini.
3. Imbuhan dari Bahasa Barat (Eropa/Inggris/Belanda)
Imbuhan dari bahasa Barat sangat produktif digunakan dalam penulisan karya ilmiah untuk menyerap istilah-istilah teknis, konseptual, dan prosedural.
- Akhiran -isasi (artinya proses atau pengadaaan)
- Contoh Kalimat: Proses digitalisasi UMKM terbukti efektif memperluas jangkauan pasar hingga ke luar negeri.
- Akhiran -is / -if / -al (artinya memiliki sifat)
- Contoh Kalimat: Pengambilan keputusan besar di dalam perusahaan harus didasarkan pada pertimbangan yang sangat rasional.
- Contoh Kalimat: Sikap yang kritis sangat diperlukan dalam menyaring berbagai informasi di media sosial.
- Akhiran -isme (artinya paham, ajaran, atau aliran)
- Contoh Kalimat: Rasa nasionalisme para pemuda terlihat jelas dari antusiasme mereka saat mendukung tim nasional bertanding.
Ringkasan Cepat Imbuhan Asing
| Asal Bahasa | Jenis Imbuhan | Contoh Kata | Arti / Makna Kata |
| Sanskerta | Awalan maha- | Mahakarya | Karya yang besar/luar biasa |
| Awalan tuna- | Tunawisma | Tidak memiliki tempat tinggal | |
| Awalan pra- | Prasekolah | Sebelum memasuki sekolah formal | |
| Akhiran -wan / -man | Wartawan / Seniman | Pelaku profesi terkait | |
| Arab | Akhiran -wi / -iah | Duniawi / Ilmiah | Bersifat kebendaan / secara ilmu |
| Akhiran -in / -at | Hadirin / Muslimat | Kelompok orang datang / wanita muslim | |
| Barat (Eropa) | Akhiran -isasi | Digitalisasi | Proses mengubah ke bentuk digital |
| Akhiran -is / -if / -al | Rasional / Kritis | Bersifat masuk akal / tajam menganalisis | |
| Akhiran -isme | Nasionalisme | Paham kecintaan terhadap negara |
